Siapa sangka wilayah Pajampangan di Sukabumi Selatan yang kini berupa perbukitan, sawah, kebun, dan permukiman ternyata menyimpan cerita tentang kehidupan laut jutaan tahun lalu?

Di Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, masyarakat menemukan fosil gigi hiu purba yang kemudian diketahui sebagai Otodus megalodon, salah satu predator laut purba berukuran sangat besar. Penemuan tersebut membuka cerita menarik tentang masa lalu kawasan Sukabumi Selatan sekaligus melahirkan sebuah destinasi edukasi yang tidak biasa, yaitu Museum Megalodon di Desa Gunungsungging.

Bagi wisatawan, kisah ini menawarkan pengalaman berbeda. Sukabumi tidak hanya dapat dijelajahi melalui pantai, curug, dan pegunungan, tetapi juga melalui jejak kehidupan yang tersimpan di dalam batuan.

Ketika Daratan Sukabumi Pernah Menjadi Laut

Pemandangan Pajampangan saat ini tentu sangat berbeda dengan kondisi jutaan tahun lalu.

Sponsor Pilihan
Jelajah Sukabumi Interaktif

Penelitian geologi mengenai kawasan Gunung Sungging dan sekitarnya menunjukkan bahwa fosil gigi hiu ditemukan pada lapisan batupasir tufan dari Formasi Cibodas yang berumur Pliosen. Lingkungan pengendapan pada masa tersebut menunjukkan adanya perubahan dari lingkungan laut menuju daratan. Peneliti menginterpretasikan kawasan tersebut sebagai teluk dan laguna yang menjadi habitat yang sesuai bagi kehidupan hiu.

Dengan kata lain, tanah yang sekarang diinjak sebagai lahan pertanian dan kawasan permukiman menyimpan bukti bahwa wilayah tersebut memiliki sejarah lingkungan yang sangat berbeda pada masa lalu.

Penemuan Gigi Hiu yang Mengubah Cerita Pajampangan

Penemuan fosil Megalodon di Desa Gunungsungging mulai menarik perhatian masyarakat sekitar tahun 2020. Benda yang awalnya dianggap sebagai batuan unik kemudian diketahui merupakan fosil gigi hiu purba. Temuan tersebut kemudian memicu aktivitas pencarian fosil di sejumlah lahan terbuka, kebun, dan kawasan sekitar.

Penelitian Museum Geologi kemudian mencatat berbagai fosil gigi hiu dari kawasan tersebut. Salah satu penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral mencatat sekitar 120 fosil gigi hiu yang dikumpulkan dalam kegiatan penelitian lapangan; 19 di antaranya diidentifikasi sebagai gigi Otodus megalodon.

Temuan tersebut membuat Sukabumi Selatan memiliki cerita geologi yang sangat menarik untuk dikenalkan kepada masyarakat.

Museum Megalodon: Menyimpan Jejak Kehidupan Laut Purba

Cerita mengenai fosil tersebut kemudian berkembang menjadi Museum Megalodon atau Museum Sri Asih Pakidulan yang berada di Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade.

Menurut informasi Visit Sukabumi, museum tersebut menyimpan ratusan fosil purba yang ditemukan di kawasan Pajampangan, termasuk fosil gigi Megalodon, moluska, serta berbagai sisa fauna laut purba.

Museum ini juga mendapatkan pendampingan dari Museum Geologi. Kementerian ESDM menjelaskan bahwa pengembangan site museum seperti Museum Megalodon diarahkan bukan hanya untuk edukasi geologi, tetapi juga untuk mendukung konservasi, geowisata, dan perekonomian masyarakat sekitar.

Hal tersebut menjadikan museum bukan sekadar tempat menyimpan fosil, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk memahami sejarah geologi daerahnya sendiri.

Seberapa Besar Megalodon yang Pernah Hidup di Sukabumi?

Bagian ini menjadi salah satu hal yang menarik bagi pengunjung.

Sebuah penelitian Universitas Indonesia yang menggunakan fosil gigi dari Desa Gunung Sungging melakukan estimasi ukuran tubuh Otodus megalodon. Dari sampel fosil yang diteliti, estimasi panjang tubuh individu yang direkonstruksi berada pada kisaran sekitar 10,36 hingga 21,56 meter.

Angka tersebut merupakan hasil estimasi berdasarkan fosil gigi, bukan pengukuran langsung terhadap tubuh Megalodon. Sebab, Megalodon telah punah dan fosil yang paling umum ditemukan adalah bagian keras seperti gigi.

Membayangkan ukuran predator laut sebesar itu hidup di kawasan yang sekarang menjadi bagian dari Sukabumi tentu memberikan perspektif baru tentang panjangnya sejarah alam wilayah ini.

Dari Fosil Menjadi Wisata Edukasi

Kisah Megalodon menunjukkan bahwa wisata tidak selalu harus berupa aktivitas menikmati pemandangan.

Museum dan lokasi geologi dapat menjadi tempat untuk memahami bagaimana suatu wilayah terbentuk. Pengunjung dapat belajar bahwa bentang alam yang terlihat sekarang merupakan hasil proses bumi yang berlangsung sangat panjang.

Kementerian ESDM menyebut site museum sebagai salah satu pendekatan untuk memberikan edukasi geologi sekaligus meningkatkan kesadaran konservasi masyarakat terhadap potensi geologi di daerahnya.

Karena itu, perjalanan menuju Museum Megalodon dapat menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin mencoba jenis wisata yang berbeda di Sukabumi.

Cerita Gua Kolotok dan Demam Perburuan Fosil

Penemuan Megalodon juga membawa cerita lain dari masyarakat Pajampangan.

Salah satunya adalah Gua Kolotok di Desa Jagamukti, Kecamatan Surade. Gua tersebut sebelumnya dikenal melalui cerita masyarakat dan mitos lokal. Namun, ketika terjadi perburuan fosil gigi Megalodon pada sekitar 2021, kawasan tersebut ikut mendapatkan perhatian baru.

Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah penemuan ilmiah dapat mengubah cara masyarakat memandang suatu tempat.

Namun, pengalaman tersebut juga menunjukkan pentingnya konservasi. Fosil merupakan bagian dari rekam sejarah bumi dan memiliki nilai ilmiah, sehingga tidak semestinya dipandang hanya sebagai benda untuk diperjualbelikan.

Mengapa Fosil Megalodon Penting bagi Sukabumi?

Fosil bukan sekadar benda kuno untuk dipajang.

Bagi Sukabumi, fosil Megalodon memberikan petunjuk mengenai perubahan lingkungan dan sejarah geologi kawasan Pajampangan. Penelitian mengenai fosil tersebut membantu para ahli memahami lingkungan purba yang pernah ada di wilayah Gunung Sungging.

Keberadaan Museum Megalodon kemudian memberikan kesempatan bagi masyarakat dan wisatawan untuk melihat bagian dari cerita tersebut secara lebih dekat.

Inilah yang membuat wisata geologi menarik: pengunjung tidak hanya melihat sebuah benda, tetapi juga mencoba memahami cerita yang terjadi jauh sebelum manusia hidup di wilayah tersebut.

Bagian dari Cerita Geopark Ciletuh-Palabuhanratu

Museum Megalodon juga berkaitan dengan kawasan Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark. Pemerintah Kabupaten Sukabumi pada 2025 melakukan pendampingan terhadap Museum Megalodon sebagai salah satu entitas yang berkaitan dengan nilai geologi, biologi, dan budaya dalam kawasan geopark.

Hal ini semakin memperkuat posisi cerita fosil sebagai bagian dari narasi geowisata Sukabumi.

Geopark pada dasarnya tidak hanya berbicara mengenai pemandangan indah. Di dalamnya terdapat cerita mengenai bumi, kehidupan, masyarakat, dan budaya yang saling berkaitan.

Pengalaman Berbeda Saat Berkunjung ke Sukabumi Selatan

Bagi wisatawan yang biasanya datang ke Sukabumi untuk mencari pantai atau air terjun, Museum Megalodon menawarkan pengalaman yang berbeda.

Perjalanan menuju Surade dapat dikombinasikan dengan eksplorasi destinasi lain di wilayah Sukabumi Selatan. Setelah menikmati pantai atau lanskap alam, wisatawan dapat menyempatkan waktu untuk mengenal sejarah bumi melalui koleksi fosil.

Dengan cara tersebut, perjalanan wisata tidak hanya menghasilkan foto, tetapi juga pengetahuan baru tentang tempat yang dikunjungi.

Menjaga Fosil sebagai Warisan

Kisah Megalodon juga mengingatkan bahwa potensi geologi perlu dijaga.

Museum Geologi dan pemerintah mendorong pendekatan konservasi agar masyarakat memahami bahwa fosil memiliki nilai pendidikan dan penelitian. Pengembangan site museum juga diarahkan agar masyarakat memiliki rasa memiliki terhadap kekayaan geologi daerahnya.

Karena itu, wisatawan sebaiknya tidak mengambil fosil dari lokasi penemuan atau membeli fosil yang asal-usul dan statusnya tidak jelas. Lebih baik menikmati koleksi yang sudah dikelola sebagai bagian dari edukasi dan konservasi.


Jejak Megalodon di Sukabumi merupakan salah satu cerita yang menunjukkan bahwa Sukabumi menyimpan lebih dari sekadar keindahan alam.

Di balik sawah, perbukitan, dan permukiman Pajampangan terdapat rekaman tentang dunia yang sangat berbeda dari sekarang. Fosil gigi hiu purba menjadi petunjuk bahwa kawasan tersebut pernah memiliki lingkungan laut pada masa lalu.

Melalui Museum Megalodon, cerita tersebut dapat dikenalkan kepada generasi sekarang dalam bentuk wisata edukasi. Bagi wisatawan yang ingin menemukan sisi Sukabumi yang tidak biasa, perjalanan ke Surade dapat menjadi kesempatan untuk melihat Sukabumi dari perspektif yang berbeda: bukan hanya sebagai tempat untuk menikmati alam, tetapi juga sebagai halaman dari sejarah bumi.

Sumber Referensi:

  1. Winarto, Johan Budi. (2022). Paleogeomorfologi Formasi Cibodas dan Catatan Temuan Fosil Gigi Hiu di Daerah Gunung Sungging dan Sekitarnya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Vol. 23 No. 1, hlm. 61–69.
  2. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). (2023). Site Museum, Upaya Edukasi Masyarakat dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah.
  3. Badan Geologi, Kementerian ESDM. Site Museum sebagai Strategi Pengembangan Wilayah Berbasis Potensi Geologi.
  4. Universitas Indonesia – Perpustakaan UI. Estimasi Ukuran Tubuh Otodus megalodon (Agassiz, 1843) melalui Fosil Gigi yang Berada di Desa Gunung Sungging, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.